Skip to content

Orang Indonesia Terlalu Berlebihan Dalam Bahasa Inggris!

March 29, 2012

Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarrakatu.

Sangat Miris Mendengar Pemerintah.Masyarakat.Presiden.bahkan Siswa siswi Sekolah Sangat Bangga Berbahasa Inggris Sampai sampai mereka jadikan Pokok bahasa Sendiri,
Bagi Saya Bahasa Inggris Tidaklah
Harus Di PakaiDi dalam Keseharian Hidup
Karena Kita Mempunyai Banyak Bahasa Daerah danYg Sangat pokok Adalah Bahasa Nasional Indonesia Tapi Mengapa, Kalian Lebih Bangga Berbahasa Inggris?
apa alasan Kalian bercakap cakap dengan bahasa Inggris?
Tidaklah pantas Menggunakan Bahasa Inggris Kalau Kita sudah memiliki Bahasa Nasional Sendiri?
Toh pelajaran Bahasa Indonesia Pun Belum tentu sudah Benar????
Memang Jika kuliah di negara lain, maka secara otomatis orang-orang Indonesia itu harus lancar berbahasa asing terutama Bahasa Inggris. Namun pertanyaannya adalah apakah Bahasa Inggris itu harus dipakai dalam kehidupan sehari-hari disini padahal sudah ada bahasa nasional yang mampu dipakai mulai dari Sabang hingga Merauke.

Bahasa Indonesia dalam batas-batas tertentu telah mampu digunakan untuk untuk berbagai kebutuhan mulai dari sekolah dan di kampus, di kalangan militer dan kepolisian hingga di hubungan politik.

Bahkan kini telah muncul wacana agar Bahasa Indonesia dijadikan bahasa kedua di ASEAN setelah Bahasa Inggris. Alasannya antara lain adalah Bahasa Indonesia yang dasarnya adalah Bahasa Melayu yang biasa digunakan di Malaysia serta Thailand selatan. Bahkan di Australia, Bahasa Indonesia sudah diajarkan di banyak sekolah dan kampus.

Jika Indonesia bermimpi agar Bahasa Indonesia menjadi bahasa kedua di ASEAN, bahkan sudah dipelajari di luar negeri, maka kenapa di dalam negeri sendiri bahasa persatuan ini mulai “ digeser” oleh bahasa asing terutama bahasa Inggris.

Kalau kita nonton televisi misalnya acara hiburan, maka sering sang pembawa acara berulang kali menunjukkan “kehebatannya” menguasai bahasa Inggris sehingga oleh para penonton bisa dianggap dia sudah “jadi orang” karena mampu menggunakan bahasa asing.

Kebiasaan memakai bahasa asing itu juga sudah “menular” ke para pejabat, sehingga mereka mulai sering memakai bahasa Inggris hanya untuk menunjukkan kepada rakyatnya bahwa ada program bagi masyarakat kecil, namun “terpaksa” menggunakan Bahasa Inggris misalnya pro poor, kemudian pro job dan pro growth. Dan akhir-akhir ini muncul lagi istilah “Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia” atau MP3EI.

Masyarakat tentu mempunyai hak untuk bertanya apakah bahasa Indonesia tidak mempunyai kta padanan bagi pro job , kemudian pro poor, pro growth hingga masterplan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan membawahi sebuah lembaga bernama Badan Bahasa Indonesia.

Apakah para ahli Bahasa Indonesia di lembaga itu tidak bisa diperintah untuk mencari kata-kata guna menggantikan kata-kata dari bahasa Inggris itu.

Risih seorang seniman terkemuka di tanah air baru-baru ini mengungkapkan keprihatinannya terhadap semakin menjamurnya penggunaan bahasa asing dalam kehidupan sehari-hari di tanah air.

“Saya merasa risih,” kata Guruh Soekarnoputra yang merupakan salah satu seniman terkemuka di tanah air ketika baru-baru ini di Jakarta mengomentari semakin maraknya penggunaan bahasa asing khususnya bahasa Inggris.

Guruh kemudian mengungkapkan bahwa dirinya dahulu sering berkonsultasi dengan pakar bahasa Indonesia, Anton Moeliono jika ingin memakai kata-kata tertentu dari bahasa Indonesia dalam rangka menghindari pemakaian bahasa asing.

Jika Bahasa Indonesia sudah dijadikan bahasa persatuan, maka tentu sikap Guruh tersebut rasanya bukan meru­pakan sesuatu hal yang berlebihan. Kalau bangsa ini sudah memiliki bahasa nasional atau bahasa persatuan, maka tentunya janji yang diucapkan puluhan tahun lalu itu patut dihormati dan terus dijaga sampai kapan pun juga.

Memang akibat globalisasi, maka semakin banyak orang Indonesia yang fasih berbahasa asing, namun mereka tidak boleh lupa bahwa ada Bahasa Indonesia yang merupakan bahasa persatuan.

Dahulu ketika Profesor Bacharuddin Jusuf Habibie menjadi presiden tahun 1998 hingga 1999, maka apakah ahli konstruksi pesawat terbang ini setiap hari “memperlihatkan kehebatannya” berbahasa Jerman dalam pidato-pidato kenegaraannya? Ketika Soeharto selama puluhan tahun menjadi presiden, maka salah satu kritik yang sering dilontarkan kepada diri jenderal itu adalah pidatonya sering terpengaruh bahasa Jawa. Soeharto dalam pidato-pidatonya sering terkesan terpengaruh bahasa asalnya, yaitu bahasa Jawa sehingga jika harus melafalkan kata yang berakhiran “kan” sering menjadi” ken’ misalnya “mengatakan” menjadi “mengataken”.

Era globalisasi memang mengakibatkan semakin banyak warga negara Indonesia yang menjadi “warga dunia” dengan menggunakan bahasa asing seperti Bahasa Inggris atau Bahasa Jerman. Tapi persoalannya adalah apakah istilah-istilah atau kata -kata asing itu harus secara otomatis dibawa ke dalam pembicaraan sehari-hari yang menggunakan Bahasa Indonesia.

Kalau sekarang saja sudah ada sutradara atau televisi yang nekad atau berani memakai bahasa asing When I’am 21 hanya untuk sebuah cerita lokal dan kemudian pejabat negara mempopulerkan kata pro job kemudian pro poor hingga pro growth serta kata masterplan, maka apa yang akan terjadi puluhan tahun lagi jika gejala ini dibiarkan berkembang terus tanpa kendali.

Jika pada tahun 1928 saja sudah ada beberapa pemuda yang mengikrarkan “Sumpah Pemuda” dengan pandangan yang jauh ke depan maka masak bangsa Indonesia yang hidup sekarang ini malah sebaliknya “bergembira ria” semaunya sendiri memakai bahasa asing dalam kehidupan sehari-harinya.

Kalau kebiasaan memakai istilah asing terus dibiarkan tanpa terkendali, maka apakah Sumpah Pemuda masih perlu dipertahankan atau malahan dibiarkan “mati suri”.

Pesan saya :

Intropeksi Diri Kalian Untuk Apa Bercakap cakap Dengan Bahasa Inggris????
Seharusnya Anda memajukan Bahasa Daerah dan Bahasa Nasional Indonesia, Agar Kelak Jika Bahasa dan Budaya Kita di Terima Oleh orang orang Asing
Intinya
Jangan meremehkan Diri sendiri

Semogga Tulisan di Atas Bermanfaat Akhir Kata

Assalamualaikum ta’ala Wabarokatuh…

From → Indonesia

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: